Looking Through the Eyes of Love
Cast :
-
Krystal f(x) as
Krystal
-
Kai EXO as Kai
-
Sehun EXO as
Sehun
Chapter: 1 dari 4
🎼 Mellisa Manchester – Looking Through the Eyes of Love
Disclaimer :
Ditulis oleh saya sendiri ( apabila reader merasa sudah pernah membaca, memang saya sudah pernah mem-posting ini di website 'nunut' sebelumnya, hehe ) dengan karakter yang terinspirasi dari idola Korea. Kesamaan kisah hanya kebetulan belaka.
💜💜💜
And now, I do believe,
That even in a storm, we'll find some light;
Knowin' you're beside me, I'm alright.
Please don't let this feelin end,
It might not come again;
And I want to remember
How it feels to touch you;
How I feel so much,
Since I've found you
Lookin' through the eyes of love
That even in a storm, we'll find some light;
Knowin' you're beside me, I'm alright.
Please don't let this feelin end,
It might not come again;
And I want to remember
How it feels to touch you;
How I feel so much,
Since I've found you
Lookin' through the eyes of love
💜💜💜
Sebuah burung besi berwarna
putih bersih sedang menukik tajam, menuju hamparan aspal yang membentang luas di
bawahnya. Burung besi, atau pesawat, itu meninggalkan gumpalan awan yang sedari
tadi menemaninya di perjalanan.
Berbekal kemahiran dan
keandalan pengendalinya, pesawat dengan sebuah logo berwarna marine di ekornya itu berhasil memijak
bumi.
“Seoul. Here we are.” Seorang lelaki pirang mendorong tas berodanya
menjauhi badan pesawat.
“Taxi, Sir?” Beberapa pria mulai menawarkan.
“No, thanks,” tolak lelaki itu lembut. “Where is she, Jessi?”
“Did tell her to pick us at 8.” Seorang gadis yang juga berambut pirang menyahut.
Pandangannya berkelana, mencari sosok seseorang.
“Like unnie, like dongsaeng. I bet she’s now sleeping,” seloroh
lelaki itu. Ia tertawa.
“Blah, blah, blah.” Gadis itu memutar bola matanya. “Ah! There she is!”
Begitu pandangan si gadis
menangkap seseorang yang sedari tadi mereka cari, kedua orang itu membawa tas
dan koper mereka ke arahnya. Orang yang dicari gadis itu tersenyum mendapati
sosok mereka berdua.
“Had a safe flight?” tanyanya.
Gadis pirang mengangguk, pun
juga pria pirang yang jauh lebih tinggi darinya. Ia menaikkan sebelah alisnya
ketika menyadari tak ada orang lain yang bersama dengan adiknya. “Kai tidak
ikut?” tanyanya heran. Kai adalah kekasih adik Jessica, si gadis pirang.
Sembari berbincang, ketiga
orang itu berjalan menuju sebuah mobil yang sudah menanti mereka di sana; Volvo
C70 berwarna merah menyala, seolah minta perhatian.
“Ah, how much I want to see the boy possible to steal your heart.”
Pria pirang mengeluh.
“Krystal,” Jessica menyebut
nama adiknya. “Mike harus melancarkan bahasa Korea. Bicaralah dengan bahasa
Korea. Berhenti berbicara bahasa Inggris dengannya, setidaknya di sini.”
Krystal mengangguk. “Okay.”
“Ay, Jessi, you are so mean,” Mike merajuk.
Disertai kerlingan sebelah
mata, Jessica menggeleng. “Michael Blake, ini tanahku, kau menurut padaku.”
“Baiklah, Tuan Putri.”
Krystal tersenyum. Kepatuhan
Mike pada kakaknya membuatnya teringat akan Kai. Ah, sedang apa kekasihnya itu
sekarang?
Memasuki kuartal terakhir di
tahun ini, kegiatan pelajaran tambahan mulai berlangsung di beberapa sekolah di
Korea Selatan untuk mempersiapkan ujian negara beberapa bulan. Kai–sayang
sekali–juga termasuk salah satu siswa yang nilainya perlu dibantu dengan
pelajaran tambahan.
Jujur saja, sih, Krystal
kesepian. Tapi ia juga paham bimbingan itu untuk masa depan Kai. Lagipula beberapaminggu
ini Jessica dan Mike, tunangannya, akan menghabiskan waktu di Seoul. Mereka
berdua akan segera menikah setelah Krystal lulus sekolah nanti.
Sejauh ini ketidakhadiran Kai
bisa ditoleransi.
👁
“Ini bagaimana?” Jessica
membolak-balik sehelai pakaian berwarna putih tulang dengan pita kecil berwarna
hitam.
“Bagus,” sahut Krystal.
“Sexy, Jess,” komentar Mike, disertai dengan kerlingan mata.
Jessica menyikut lengan
Mike, lalu menggetil hidung tunangannya dengan mesra. “Want me to look sexy in front of people, eoh?”
“No!” seru Mike cepat. “Kau hanya boleh terlihat seksi di depanku.
Ini tidak boleh dipakai, kecuali kalau kau pergi bersamaku.” Mike memberikan
sebuah kerlingan lagi.
Cukup lama mereka berada di
mall. Mall adalah lokasi kegemaran Krystal dan Jessica. Alasannya? Well, dapatkah kau menahan lirikan
matamu terhadap tas lucu di pojok sana? Atau menahan godaan untuk menyentuh
selimut dan karpet hanya untuk menguji kehalusannya? Atau menahan naluri
melihat price tag pakaian merah marun
di toko depan itu? Sulit.
Dering ponsel yang cukup
memekakkan gendang telinga sukses membuat perhatian mereka teralih dari sepatu
flat putih mutiara beraksen pita yang sedang dicoba oleh Jessica. Sepatu itu
sangat serasi dengan dress yang akhirnya tadi dibeli.
Ponsel Mike, rupanya.
“Blake’s here, who’s there?” Saking hapalnya, Jessica sampai dapat memparodikan
Mike dalam mengangkat telepon.
“Aa. Yeah, I will be in Seoul with my almost-wife until—emm—end of the
month, maybe. Why did you call? Hey, what? You kidding! Gosh! I love you, I
love you!”
Sejurus kemudian Mike sudah
melonjak kegirangan seperti seorang anak lelaki yang baru saja mendapat mainan
Gundam terbaru.
“Siapa?” tanya Jessica.
“Anak rekan kerja
orangtuaku,” jawab Mike. Ekspresi senangnya kini semakin nyata ketika ia
bertemu muka dengan tunangannya.
“Ah, yang kau bilang akan
kuliah di California itu?”
“Iya. And guess what?” Seringai Mike melebar, membuat Jessica dan bahkan
orang yang tak tahu apa-apa seperti Krystal juga penasaran. Hm. Sepertinya bule
26 tahun itu memiliki bakat sebagai orator atau setidaknya penyiar radio. “Dua
tiketVVIP dan backstage konserSeiya!”
“You kidding me!!!” Jessica terpekik.
Sepasang insan yang telah
terikat janji pertunangan itu terlihat sangat bergembira. Mike menceritakan
setiap kalimat yang diucapkan anak rekan kerja orangtuanya itu dengan detail,
bahkan dengan nada suara yang mirip.
Tak bisa bohong. Kedua orang
itu adalah penggemar Seiya, group penyanyi asal Jepang yang akhir pekan ini
akan menggelar konser perdananya di Korea. Sebenarnya kedua orang itu sudah
mempersiapkan tiket untuk menontonnya: tiket festival, di mana seorang penonton
akan dapat benar-benar merasakan konser yang sesungguhnya, di mana seorang penonton
akan berusaha berada di barisan terdepan, di mana seorang penonton bahkan dapat
melihat tetesan keringat sang artis.
Tapi backstage? Apa gunanya berada di jarak semeter kalau bisa berada di
jarak sesenti!
“Krystal.” Kali ini Jessica
memandang pada adiknya. “Tiket festival kami untukmu saja, ya?”
Dengan segera Krystal
menolaknya. Bukannya ia tak suka pada Seiya. Biasa saja sih. Tapi, “Tiketmu festival,
unnie.”
Benar juga.
Menyuruh seorang tuan putri
berdiri di kerumunan orang yang semuanya berkeringat, bau, bersemangat….
mungkin dapat dikatakan sebagai kriminalitas.
“Kai akan menjagamu,” kata
Jessica, meyakinkan.
Kali ini Krystal
menerimanya. Kai juga menyukai Seiya, khususnya penyanyi berambut pendek
bernama Irina. Pikir Krystal, konser ini pasti bisa membuat Kai rileks sejenak
dari rutinitas belajarnya yang keterlaluan padatnya.
👁
“IRINA TATSUYA!!!”
Tepat sekali dugaan Krystal.
“Mau! Aku mau sekali!” Kai
menyambut dengan antusias ajakan Krystal untuk menonton konser itu – apalagi
gratis.
“Nilai tesmu harus baik,
janji?”
Kai pernah bilang,
satu-satunya hukuman yang bisa ia berikan pada Krystal adalah menciumnya di
depan umum. Lalu bagaimana dengan hadiah?
“Krystal-ah,” goda Kai.
“Ini di kantin,” Krystal
memperingatkan.
Tetapi bukan Kai namanya
kalau tak bisa mengakali. Ia melakukannya senatural mungkin. Klasik sih: dengan
berpura-pura menjatuhkan sendok, Kai membuat dirinya dan Krystal berada di
bawah meja. Begitu target berada di posisi yang diinginkannya, Kai dengan
segera memberikan ciuman kilat yang efeknya cukup dahsyat bagi jantung Krystal.
“Terima kasih,” ucap Kai,
tulus.
Krystal mengangkat dirinya,
kembali duduk seolah tak ada yang terjadi. “Iya.”
“Bagaimana aku bisa hidup
tanpamu, Calon Nyonya Kim!” Untuk sekali ini Kai tak dapat menahan diri untuk
memeluk kekasihnya.
👁
Concert Day.
Tiket berwarna abu-abu
mengkilap – nyaris menyerupai perak – menjadi bekal pemiliknya untuk berdiri di
pelataran hall menunggu waktu konser
tiba. Tiket berinisial huruf F besar yang menjadi tanda bahwa pemilik tiket
akan berada di section F itu sedikit
terlipat karena pemiliknya memeganginya dengan sedikit panik.
“Uh. Kai, di mana kau?”
Beberapa kali Krystal
mencoba menghubungi Kai, namun sampai sekarang Kai belum mengangkatnya. Tak
mungkin tidur, ‘kan?
“Belum juga?” Jessica
bertanya.
Krystal menggeleng. “Aku
tidak jadi menonton saja.”
Ucapan Krystal itu membuat
Jessica tak rela. Bukan perkara tiket. Menurut Jessica, adiknya sudah lama tak
bersikap manusiawi—dalam artian berteriak dan bersemangat. Ia ingin adiknya
tidak selalu melakukan sesuatu yang serius. “Dasar kau, Kai.”
“Mungkin dia sibuk,” bela
Krystal.
Pesan yang tiba-tiba masuk
ke ponsel Krystal membenarkannya.“Benar, ‘kan, Kai dilarang orangtuanya,”
Krystal memberitahu.
“Mike,” rayu Jessica,
berharap tunangannya memiliki ide.
Dan tunangannya memang
memiliki ide. Ia sudah jelas mengerti mengapa Jessica begitu ngotot menyuruh
adiknya menonton konser. Agak dilema, sih. Ia dan Jessica jelas tak akan
membiarkan Krystal seorang diri di tengah lautan manusia, tapi ia juga tak mau
menonton terpisah dari Jessica. Kalau begitu yang dibutuhkan adalah teman untuk
Krystal, bukan?
Jemari Mike mempermainkan
layar ponselnya, sementara Jessica memandanginya dengan senyuman. Sejak awal
berkenalan ia selalu tahu pria ini dapat berpikir cepat.
“Oke, bisa,” kata Mike.
“Apa?”
Mike menunjukkan cengiran
khasnya. “Aku minta tolong anak rekan kerja Dad
untuk menemani Krystal.”
“Yang memberi tiket ini pada
kita?” tebak Jessica. Memberikan tiket pada yang memberi tiket?Pfft. Demi apa,
deh.
👁
“Di mana kau?” Mike
berbicara pada ponselnya. “Yeah, sudah
mulai bisa bahasa Korea–jangan tertawakan aksenku! Aku, Jessica, dan adiknya
ada di depan counter BubbleTea. You see me? Ah, ya, aku juga melihatmu! Come!”
Mike memasukkan kembali
ponselnya dalam tas Jessica. Ia tak suka membawa tas, juga merasa tak aman
memasukkan ponsel di saku celana.
Jung Sibling yang
masing-masing membawa dua gelas BubbleTea ikut melihat ke arah yang berada di
fokus pandang Mike, mencari sosok seseorang berjas, bersepatu kulit, dan
dikelilingi pengawal. Setidaknya begitulah pikiran mereka tentang sosok yang
dibanggakan Mike sejak seminggu ini. Bukankah begitu gambaran tentang anak
pengusaha sukses yang ayahnya menjadi
sponsor terbesar di konser ini?
Pernah mendengar ‘jangan
menilai buku dari sampulnya’? Ada lagi: ‘jangan menilai sampul dari bukunya’.
Anak pengusaha itu sama
sekali tak terlihat… berada.
Menilik ke bawah, sepatu
olahraga berwarna putih yang dikenakannya sepertinya terakhir dicuci adalah
tiga bulan yang lalu. Sedikit ke atas, celana jeans yang kelihatannya dibeli di
Dongdaemun–Krystal bahkan bisa menebak harganya tak sampai lima puluh ribu won.
Ke atas lagi, kaus putih yang cukup bagus. Tapi tetap saja, kaus hanyalah kaus.
Lalu ke atas lagi.. wajahnya..
“Oh. Se. Hun.”Adalah kata
yang seketika terucap di bibir Krystal.
“Krystal?” Orang itu
mengucapkan nama Krystal.
Oh Sehun? Ahh. Dia anak
kelas 2-7 yang kata Kai adalah yang paling dekat dengannya di tim sepak bola
sekolah. Dia juga di sini, apakah dia juga menyukai Seiya? Pantas saja ia
nyambung bicara dengan Kai. Eh, tapi kenapa Sehun kenal Mike, ya?
Dan, sel-sel dalam otak
Krystal sudah mulai bekerja. Astaga. Jangan bilang kalau orang kaya itu adalah
Sehun!
“Kau ngapain?” tanya Sehun–sepertinya
masih tak dapat menangkap apa yang terjadi. “Oh, hi, Mike! Then, here she is? Jessica..
wait. Jessica…. Jung..”
Setelah mengingat nama calon
istri Mike itu pandangan Sehun beralih pada Krystal.
Nama tunangan Mike adalah
Jessica Jung. Nama marga Krystal juga Jung. Saat ini mereka sedang berdua,
bersebelahan, sama-sama memegang BubbleTea. Kalau begitu..
Otak Sehun juga sudah mulai
bekerja.
“Jadi kalian sudah kenal!”
Mike terlihat senang.
Krystal mengangguk. “Dia
sahabatnya Kai.”
Ck. Mengapa jadi begini? Jessica
tak suka. Krystal ‘kan sayang sekali pada Kai. Tentu tak baik ia sebagai kakak membiarkan
adiknya terlibat skandal kecil yang bila ketahuan akan membuat Kai marah. Kai
marah, Krystal pasti sedih. Logikanya.
“Aku dengan Krystal saja,
deh. Ya?” Sepertinya permohonan Jessica ditujukan pada Mike.
“Sehun tidak akan
macam-macam pada Krystal.” Mike meyakinkan. “Benar begitu, Sehun?”
Sehun yang sedari tadi diam
akhirnya angkat bicara juga. Ia menggaruk rambutnya yang berantakan. “Noona
tenang saja. Krystal aman denganku.”
“Nah. Sudah tidak ada alasan
lagi!” Kini Mike puas.
👁
Konser bertajuk Say Seiya! sudah berlangsung seperempat
jam. Baru satu lagu yang tuntas dibawakan. Dibuka dengan lagu andalan mereka, kini
pada penampilan kedua penonton dikejutkan dengan Irina yang bernyanyi solo lagu
My Heart will Go On, soundtrack film
Titanic. Di group, ia adalah main dancer. Menyanyikan lagu seperti ini
seharusnya bukan spesialisasinya.
“Kai harus melihat.”
Dengan kamera ponselnya,
Krystal merekam penampilan penyanyi jangkung dengan rambut biru gelap itu. Ia
sudah bisa membayangkan histeria Kai melihat ini.
“Idolamu Irina?” tanya
Sehun, tiba-tiba.
“Sst.” Krystal menyuruh
Sehun diam. Bisa-bisa suara Sehun tertangkap perekam ponselnya. Well, Krystal pun juga tak mau Kai tahu
ia nonton bersama Sehun.
“Kai yang mengidolakan
Irina,” jawab Krystal setelah kehadiran Irina di panggung digantikan oleh Akane
Yorozuya.
Sehun mengangguk-angguk.
“Kau sendiri?”
“Eiji. Dia memiliki range
vokal yang luas meskipun suaranya rendah. Dan kemampuannya bermain drum cukup
mengesankan. Lagipula dia selalu berani tampil dengan busana dan gaya rambut
seperti apa pun,” sahut Sehun penuh kekaguman. “Kalau kau?”
“Kukira kau menyukai wanita
seksi seperti Akane,” Krystal menyimpan ponselnya dalam tas. “Aku tak memiliki
idola.”
Jawaban itu seolah jawaban
yang memang dinantikan oleh Sehun.Wajah lesu Sehun seketika menampakkan senyum
cerah. “Kalau begitu kita keluar saja. Nanti kita kembali setelah konser
selesai!”
“Apa?” Krystal tak percaya
dengan apa yang didengarnya.
Benarkah saat itu Sehun
mengajak Krystal pergi? Mengajak pacar sahabatnya?
Tapi toh Krystal mengiyakan.
👁
“Ngomong-ngomong, aku lupa.
Aku tidak bawa helm dua.”
Krystal bingung. “Kau.. naik
motor?”
“Yap,” jawab Sehun singkat.
Arah langkah Sehun yang
semakin menuju parkiran motor membuat Krystal yakin. Tentu saja semula ia tak
yakin Sehun naik motor. Oke, penampilannya sederhana. Tapi bukankah setidaknya
seharusnya ia naik mobil?
Yamaha FJR1300 dengan mudah
ditemukan.Jelas, tak ada lagi motor seperti itu di area parkir. Terlebih lagi
warnanya silver tua, jarang sekali ditemukan. Dan sudah jelas motor itu bukan
motor sembarangan. Motor sport dengan harga…. Ah, sudahlah, tak etis
membicarakan masalah harga.
“Aku.. nonton saja,” putus
Krystal.Seumur hidup Krystal belum pernah naik motor.
“Serius, nih?”
“Terlihat berbahaya.”
Krystal mengomentari motor Sehun. Itu alasannya tak pernah naik motor. “Apalagi
hanya satu helm.”
Sehun mengulum senyum kecil.
Diraihnya helm sewarna dengan motor kesayangannya itu, lalu dipasangkannya pada
kepala Krystal. “Yang penting kau pakai helm, ‘kan?”
“Kau bagaimana?”
“Tadi aku sudah bilang pada
Jessica noona, kau akan aman. Jadi aku harus menepati janjiku.”
“…”
Oke. Ucapan Sehun mampu
membuat Krystal speechless.
👁
Lagi-lagi Krystal dibuat
takut.
Bukannya Sehun mengendarai
motor dengan ugal-ugalan–justru terlalu aman. Kecepatan motor ini sebenarnya
bisa saja mencapai dua ratus hingga tiga ratus kilometer per jam, tapi bahkan
sepertiganya saja Sehun tak sampai. Mungkin ia hanya melajukan motornya enam
puluh kilometer per jam.
Dingin? Bukan juga. Motor
sport seperti ini memiliki perlengkapan cukup mumpuni. Jaket tebal yang
seharusnya dikenakan oleh pengendara justru dibiarkan Sehun dipakai Krystal,
seperti nasib helmnya.
Tapi tempat tujuan merekalah
yang membuat Krystal takut.
Di mana mereka? Mengapa
mereka masuk ke dalam gang? Mengapa jalannya tidak rapi? Mengapa lampunya
semakin ke dalam semakin jarang?
Hingga berhentilah mereka di
depan sebuah.. apa ini? Penampungan sampah?
👁
“Sehun..” bibir Krystal
memanggil nama itu dengan ragu, “Sehun, kau.. mau apa?”
Rasa menyesal menjalari
sekujur tubuh gadis manis itu. Sehun laki-laki. Krystal perempuan. Apa yang
akan mereka lakukan di tempat pembuangan sampah seperti ini? Gelap, kotor…
“Bibi Hyeseok!” seru Sehun.
Seorang wanita paruh baya
yang sedang memungut botol plastik menengadah. “Tuan Sehun!” serunya.
“Sehun!”
Sejurus kemudian dari dalam
tumpukan sampah dan dari rumah-rumah kardus di sekitar gunung barang buangan
itu muncul beberapa orang. Satu, dua, hingga mungkin dua puluhan orang.
Orang-orang itu melihat ke sosok yang terlihat paling berkilau di daerah itu:
Sehun dan Krystal.
Mereka tersenyum bahagia.
Nama Sehun berkumandang berulang-ulang.
“Sehun oppa!” Seorang bocah
kucel menghampirinya.
“Hyewon-ah,” dengan lembut
Sehun mengusap rambutnya dan membalas sapaan gadis itu. Tangannya terulur,
memberikan empat lembaran won kuning pada gadis itu sambil berkata, “belilah
makanan yang banyak.”
Begitu gadis itu pergi, wanita
yang tadi dipanggil dengan sebutan Bibi Hyesok menghampiri Sehun. “Ada apa?
Perjodohan lagi? Atau orangtuamu belum pulang juga?”
“Yang pertama,” desah Sehun.
Para penghuni pembuangan
sampah itu keluar dan tanpa dikomando merapikan lahan agar bebas sampah.Yaaah,
meski tak bisa bersih, setidaknya mereka berusaha memberikan tempat yang layak.
Bahu membahu mereka membersihkan tempat itu, bahkan menghamparkan beberapa
helai kain–yang entah bagaimana Krystal yakin kain-kain itu adalah pakaian
mereka.
“Tuan dan Nyonya Oh ke Korea
membawa seorang gadis?” tebak Bibi Hyeseok.
Sehun mengangguk. Diraihnya
tubuh Krystal untuk mengikutinya duduk di tempat yang mereka sediakan. “Sekyung
noona malah ikut mendukung ayah.”
“Hani sudah tahu?”
“Belum,” jawab Sehun, letih.
“Dia akan mengikuti TOEIC sebentar lagi, dia sangat sibuk.”
Apa yang mereka bicarakan
cukup dimengerti oleh Krystal. Intinya Hani adalah kekasih Sehun, sepertinya
sudah kuliah. Tapi seperti sewajarnya orang kaya lainnya, Sehun berkali-kali
dijodohkan. Kali ini Sehun tak bisa bercerita pada Hani karena Hani sibuk.
Satu-satunya yang Krystal tak mengerti adalah mengapa begitu saja Sehun lantas
harus ke tempat sekumuh ini untuk bercerita?
Tak lama kemudian, Hyewon
kembali lagi dengan beberapa anak seusianya yang sama lusuhnya dengan dirinya.
Wajah mereka terlihat gembira dengan kantong-kantong makanan di tangan mereka.
“Ambilkan sumpit yang bagus
untuk Tuan Sehun dan temannya,” suruh Bibi Hyeseok.
“Ah,” Sehun tersadar.
Rupanya sedari tadi ia belum mengenalkan Krystal pada Bibi Hyeseok. “Krystal,
ini Bibi Hyeseok. Gadis tadi Hyewon, anaknya. Semuanya, ini temanku, Krystal.”
Bibi Hyeseok mengulurkan
tangannya.
Selama beberapa detik tangan
Bibi Hyeseok melayang di udara, menanti Krystal menyambut jabatan tangannya.
“Krystal,” bisik Sehun
dengan nada menegur.
“Tempat ini kotor,” ujar
Krystal, sangat pelan.
Tapi toh Bibi Hyeseok
mendengarnya. Ia menarik kembali tangannya. Sudah maklum. Sehun dari kalangan
atas, berarti temannya ini juga.
“Sehun oppa! Ini sumpitnya!”
Anak-anak lain berebut
mengambil sumpit berwarna perak dari tangan Hyewon. Kelihatan sekali dari cara
Bibi Hyeseok tadi berbicara, sumpit itu dibeli khusus oleh mereka dan selalu
dikeluarkan saat Sehun datang. Mereka semua sepertinya ingin menjadi orang yang
memberikan sumpit pada Sehun.
“Dia baik sekali,” kata Bibi
Hyeseok.
Saat itu Sehun sedang
menanggapi anak-anak itu dan makan bersama pemulung lain, membuat Bibi Hyeseok
memiliki kesempatan berbicara dengan Krystal.
“Sehun adalah malaikatnya
masyarakat Pembuangan Umum.” Bibi Hyeseok memandangi Sehun dengan tatapan
syukur. “Kalau ia datang kemari, kami bisa makan seporsi seorang, dengan daging
dan jus pula. Bukan hanya nasi putih dan kimchi seperti yang sehari-hari kami
nikmati. Terkadang ia datang sekadar berkunjung, terkadang juga bercerita.”
Krystal mengangguk-angguk.
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?”
Wajah Bibi Hyeseok
memperlihatkan senyum sayang. “Ayahnya memiliki pabrik pengolahan sampah. Bisa
dibilang kami ini karyawan tidak langsungnya.”
Aku saja tak tahu keluargaku memegang bidang usaha apa
saja.
“Kekayaan tak membuatnya
sombong.” Seketika Bibi Hyeseok mendesah. “Sayang sekali dia..”
“Dia apa?” tanya Krystal,
seketika antusias.
Sehun menarik tangan
Krystal. “Krys. Ayo, makan.”
“Apa? Makan?”
“Kata Kai, kau itu jarang
makan,” sahut Sehun. Ia memberikan sumpit ‘istimewa’nya pada Krystal.
Tatapan mata Krystal seolah
mengisyaratkan kalimat ‘aku tak mungkin makan di tempat ini.’ Melihat puluhan
orang itu makan dengan lahap justru membuat Krystal semakin tertusuk. Mereka
rakus sekali. Sebegitu laparkah mereka?
“Krystal noona~” seorang
anak laki-laki ikut memegang tangan Krystal.
Tangan anak itu kotor. Dan
tangan kotor itu menyentuh tangan Krystal!
“Mari makan bersama kami,”
kata anak itu. “Sehun hyung menunggumu makan.”
Orkestra kecil dari perut
lelaki jangkung itu membenarkan perkataan si lelaki kecil berambut keriting.
“Ya sudah kalau kau tak mau makan. Aku makan dulu. Nanti kubelikan yang lain untukmu.”
“Aku makan di tempat seperti
ini?” Pertanyaan Krystal berkumandang dalam benaknya.
Sehun saat ini sudah larut
dalam makan malam yang ceria bersama para pemulung dan keluarganya. Bibi
Hyeseok juga sudah ikut makan.
Makan malam…..
Biasanya, setidaknya
potongan buah segar dengan saus mayones menjadi teman santap malamnya.
Terkadang sepotong paiayam juga hadir untuk meramaikan bila Krystal sedang
malas berdiet.
Namun… ia selalu sendiri.
“Tidak pernah makan
ramai-ramai, ‘kan?” Sehun tersenyum ketika pada akhirnya Krystal membuka kotak
makanannya.
Krystal mengangguk. Semoga aku tidak mati. Ini steril, ini
steril, gumamnya sebelum menyantap makan malamnya.
“Bisa dibilang aku adalah
orang yang paling mengerti dirimu,” Sehun berujar, yang otomatis membuat
Krystal tak mengerti.“Maksudku,” kata Sehun, “orangtuaku juga di luar negeri. Noonaku
kuliah di luar negeri–sekarang sudah menjadi istri orang. Kita harus
pandai-pandai memalsukan jati diri kita, merefleksikan diri menjadi sosok yang dikagumi
dan disegani, tidak berkawan dengan banyak orang, karena katanya pebisnis yang
baik tidak mempercayai siapapun.”
Ah, rupanya nasib mereka
memang sama.
Jujur saja. Baru sekali ini
Krystal mengenal sisi ini dari diri Sehun. Di sekolah, Sehun terlihat biasa
saja. Sangat biasa, tidak menonjol. Nasib mereka sama, tapi Krystal dikenal
orang-orang dan Sehun tidak.
“Satu lagi yang membuat kita
sama.”
“Memiliki kekasih yang saat
ini sama-sama sedang sibuk?” Krystal menebak.
Sehun menggeleng.
Sehun menghembuskan napas
berat. Sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang terlihat letih.
“Kita sama-sama… mencintai makhluk… yang disebut lelaki.”
“Apa?”
“Krystal,” desah Sehun
dengan bibir gemetaran, “aku gay.”
To be continued.....

No comments:
Post a Comment